Sabtu, 1 Juni 2013. Awal Juni yang indah bagiku :") kala itu hujan baru saja berhenti mengguyur bumi bagian Yogyakarta. Aku bergegas pulang ke rumah untuk mandi dan bersiap menuju rumahmu. Entah, aku merasa yakin melangkahkan kaki dan menarik gas motorku menuju kediamanmu. Ya, ada rasa khawatir yang aku rasakan sepanjang perjalanan Jalan Kaliurang kilometer 14,5 hingga Jalan Magelang kilometer 14. Jantungku semakin berdebar ketika semakin mendekati kediamanmu. Oke, aku berusaha menenangkan pikiran dan perasaanku. Tiba juga aku di depan rumahmu. Kumatikan mesin motorku, melepas helm, sleyer dan sandal yang aku kenakan. Kuucap salam sambil mengetuk pintu rumahmu. Tak ada yang menjawab, tak ada yang keluar dari dalam rumahmu. Kuulangi lagi mengucap salam dan mengetuk pintu. Tak lama kemudian kudengar jawaban salam dari seorang gadis. Yaaak! itu Nisa. Ia menyambutku, mempersilahkanku untuk masuk kedalam rumah. Lalu ibu Tita menyalamiku, mencium pipi kanan kiriku dan memeluku erat. Sungguh, ini ciuman dan pelukan yang tulus dari hati dan aku bisa merasakannya :")) Mereka mempersilakanku untuk duduk di ruang tengah. Berbincang, ditemani sirup melon hangat dan berbagai cemilan yang ada di rumahmu. Tak lama kemudian pak Kadar datang, entah dari mana. Lalu ikut berbincang dengan kami. Banyak sekali yang kami bicarakan di kala itu. dari yang serius hingga yang lucu. Orangtuamu memamitkanmu, mereka meminta maaf karena kau tak sempat untuk berpamitan langsung denganku. Separuh hati dan separuh jiwaku runtuh. Bagaikan terkena hantaman ombak yang begitu keras. Namun, entah mengapa aku merasa lega mendengar kabar baik ini. Aku merasa tenang. Walapun kau tak sempat berpamitan langsung denganku, setidaknya kau masih menitipkan pamitmu ke orangtuamu. Aku merasa tenang, setidaknya kini aku mengetahui kau berada dimana dan apa yang kau lakukan disana. Mereka juga menjelaskan mengapa kau tak menemuiku dan berpamitan denganku. Mereka juga memitaku untuk bersabar dan memaklumi jika aku tak bisa menghubunginya untuk waktu-waktu ini, memintaku untuk menantimu 3 sampai 4 tahun kedepan. Oke, aku akan berusaha menantimu, namun aku tak ingin memaksakan perasaan dan keadaanku. Mungkin kini aku bisa berkata "iya" namun aku tak bisa berjanji untuk 3 atau empat tahun depan, aku hanya ingin berusaha dan tidak membohongi perasaanku sendiri.
Ada beberapa percakapan antara aku dan orangtuamu yang membuatku merasa sangat senang. Entah karena ucapannya atau apa. Namun, aku tak bisa melupakan kata-katanya. Percakapan itu menyangkut hubungan kita :))) Aku tak ingin menceritakan hal itu banyak-banyak :)
Setelah makan malam, ayahmu mengajakku ke ruang tamu. Beliau mengeluarkan berbagai kertas dan spidol. Banyak hal yang beliau ajarkan kepadaku dan aku yakin kamupun telah diajarinnya. Percakapanpun tak terhentikan, hinggak akhirnya waktu telah menunjukkan pukul 7 malam. Itu artinya aku harus pulang ke rumah. Pak Kadar dan Nisa mengantarku pulang sampai rumah. Di perjalanan aku dan Nisa membahas tentang kamu dan kekasih terakhirmu kemarin, tentang kamu, tentang keluargamu dan tentang banyaaak lagi. Kudengarkan baik-baik kata demi kata yang Nisa keluarkan. Akupun bercerita banyak tentangmu, tentangku, tentang kita.
Sampai di rumah, Nisa dan ayahmu mampir sebentar. Bertemu dan bercengkrama dengan ibuku. Mereka terlihat akrab, terlihat sudah lama kenal.
Entah, kala itu aku senang sekali. Ya walaupun tidak lengkap tanpa kehadiranmu di sela-sela kami. Namun, keluargamu dan aku masih ada di sini. Ada untuk mendoakanmu, ada untuk menantimu kembali di kala kau telah sukses, ada untukmu di kala kau butuh sandaran, butuh semangat. Kami selalu ada untukmu, apapun keadaanmu, apapun kondisimu.
Khususnya aku. Aku masih setia menanti cintamu di sini, di Yogyakarta, di tempat kita berjumpa dan memupuk cinta di kala itu :) ❤
Tidak ada komentar:
Posting Komentar